Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Juli 2010

Laskar Pelangai


Sebuah adaptasi sinema dari novel fenomenal LASKAR PELANGI karya Andrea Hirata, yang mengambil setting di akhir tahun 70-an

Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara), serta 9 orang murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup.

Hari itu, Harun, seorang murid istimewa menyelamatkan mereka. Ke 10 murid yang kemudian diberi nama Laskar Pelangi oleh Bu Muslimah, menjalin kisah yang tak terlupakan.

5 tahun bersama, Bu Mus, Pak Harfan dan ke 10 murid dengan keunikan dan keistimewaannya masing masing, berjuang untuk terus bisa sekolah. Di antara berbagai tantangan berat dan tekanan untuk menyerah, Ikal (Zulfani), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) dengan bakat dan kecerdasannya muncul sebagai pendorong semangat sekolah mereka.

Di tengah upaya untuk tetap mempertahankan sekolah, mereka kembali harus menghadapi tantangan yang besar. Sanggupkah mereka bertahan menghadapi cobaan demi cobaan?

Film ini dipenuhi kisah tentang kalangan pinggiran, dan kisah perjuangan hidup menggapai mimpi yang mengharukan, serta keindahan persahabatan yang menyelamatkan hidup manusia, dengan latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia

INTO the BLUE 2

Into the Blue 2: The Reef


Into the Blue 2: The Reef Poster

Into the Blue 2: The Reef Poster

Saya belum pernah menonton Into the Blue yang pertama. Walaupun demikian, banyak reviewer menyatakan film tersebut tidak begitu bagus (tapi semua reviewer setuju bahwa Jessica Alba itu seksi) dan membuat saya tidak begitu berminat menontonnya. Empat tahun kemudian, berita mengenai akan dirilisnya Into the Blue 2: The Reef (The Reef) mencuat dan menarik perhatian saya. Apa bagusnya merilis sebuah film yang tidak ada hubungan dengan prekuelnya? Ternyata studio MGM sependapat dengan saya dan tidak jadi merilis film ini di layar lebar. Sebaliknya, The Reef langsung dijadikan film rilis DVD.

Sebuah sekuel yang langsung rilis di DVD biasanya memiliki budget yang lebih terbatas dan kualitas di bawah film layar lebar. Lantas kenapa saya masih mau buang-buang waktu menontonnya? Jawabannya: Laura Vandevoort. Semenjak artis ini pertama kali muncul sebagai Kara (Supergirl) di Smallville season tujuh, saya sudah kesengsem dengannya. Saya termasuk penonton yang sangat kecewa ketika Vandevoort tidak memperpanjang kontrak memasuki season kedelapan Smallville. Karena itu, The Reef menjadi ajang melampiaskan dahagaku akan sosok Vandevoort.

Pasangan kekasih Sebastian dan Dani adalah pendamping surfing. Mereka berdua hidup dengan menjadi guide para turis yang datang ke Hawaii untuk surfing. Sebastian sendiri tidak puas dengan kehidupan seperti ini dan ingin memiliki kapal sendiri. Ia berambisi untuk menemukan San Cristobal, sebuah kapal yang mengangkut harta karun. Sebastian percaya bahwa harta karun ini bisa memberinya modal untuk memulai usahanya sendiri. Suatu hari, ia didatangi pasangan Carlton dan Azra yang mengatakan juga ingin mencari San Cristobal. Tanpa menaruh rasa curiga, Sebastian dan Dani mengiyakan permintaan mereka. Tak pernah mereka sangka bahwa Carlton dan Azra sebenarnya memiliki motif tersembunyi…

Entah kebetulan atau bukan, menonton film ini seperti menonton para artis dari berbagai serial televisi ngumpul jadi satu. Laura Vandevoort dari Smallville, Chris Carmack dari The O.C. kemudian Marsha Thomason dari Lost (sebagai Naomi) sementara David Anders dari Heroes (sebagai Adam Monroe). Komplit sudah. Tapi entah bagaimana keempatnya yang tampil lumayan di serial TV masing-masing seperti lupa bagaimana cara berakting dalam film ini. Penampilan semuanya datar dan tidak terlihat menjiwai karakter mereka. Ini diperburuk dengan kemampuan penyutradaraan Stephen Herek yang payah. Banyak adegan terasa kepanjangan dan tidak menambahkan apapun yang baru dalam cerita. Editing yang kurang rapi ini kentara ketika hampir selama sepuluh menit kita dipaksa menonton pertandingan voli pantai dengan sinematografi yang menyakitkan mata. Bisa dibilang tensi cerita baru mulai meningkat menjelang akhir film dan semua sudah terlambat. Sulit bersimpati dengan para karakter yang begitu generik.

INTO the BLUE

Lihat Gambar
Film ini mengisahkan petualangan Jared (Paul Walker) dan Sam (Jessica Alba), sepasang kekasih yang punya profesi unik sebagai pencari "harta karun" di bawah laut. Mereka dikontrak oleh seseorang bernama Bates (Josh Brolin) yang menawari sebuah tugas menantang di kedalaman laut kepulauan Bahama.

Pada saat memulai eksplorasi, secara kebetulan Jared bertemu dengan seorang sahabatnya, Bryce (Scott Caan) yang datang lebih dulu bersama pacarnya, Amanda (Ashley Scott). Saat melakukan penyelaman itulah mereka menemukan sesuatu yang luar biasa, yaitu sebuah bangkai kapal ekspedisi tua lengkap dengan harta benda bersejarah dan bernilai ratusan juta dollar di dalamnya.

Tak disangka, di dekat lokasi penemuan itu terdapat juga bangkai pesawat terbang misterius. Mereka pun terkejut ketika mengetahui bahwa pesawat itu dipenuhi dengan kokain selundupan. Lantaran sifat serakahnya, Bryce bersikeras untuk mengambil barang-barang terlarang itu, meski sudah dilarang oleh Jared dan Sam.

Akibatnya pun fatal. Mereka menjadi target buruan bandar narkoba setempat yang menginginkan semua barang-barang haram itu diangkat ke permukaan, atau mereka terancam dibunuh. Lalu apa yang bisa dilakukan untuk menggagalkan rencana jahat tersebut, sekaligus menyelamatkan nyawa mereka?

Film ini menjadi tontonan yang sangat menarik sebab sebagian besar syutingnya dilakukan di bawah permukaan laut Bahama yang sangat indah dan eksotis. Selain itu banyak hal-hal tak terduga yang terjadi pada setiap tokohnya hingga membuat adrenalin bergejolak. Dan di akhir ceritanya, juga ada sedikit kejutan tentang siapa yang akan selamat dan yang tidak.

Sutradara John Stockwell nampaknya berhasil menghadirkan sebuah suspense di dasar Samudera Atlantik Utara ini dengan alur cerita yang kuat. Selain memperlihatkan sisi lain dunia bawah laut, Anda juga akan disuguhi kebolehan atraksi menyelamJessica Alba yang tampil seksi dan menawan di film ini.

Senin, 26 Juli 2010

Knowing

knowing


Sebuah penggalian yang dilakukan di sebuah sekolah menemukan barang-barang dari masa lalu yang memang sengaja dikubur untuk ditemukan orang-orang di masa yang akan datang. Salah satu dari hasil temuan itu adalah deretan angka yang dibuat oleh seorang anak lima puluh tahun yang silam. Semula deretan angka itu terlihat seperti deretan angka acak namun ternyata di balik deretan angka itu tersimpan sebuah misteri.

Caleb Koestler (Chandler Canterbury), putra John Koestler (Nicolas Cage) membawa temuan itu dan menunjukkan pada ayahnya yang memang adalah seorang ahli astrofisika. Setelah meneliti deretan angka tersebut, John menyadari ada sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh si penulis dan ternyata di dalam deretan angka itu juga tersimpan sebuah fakta yang menakutkan.

Dalam deretan angka itu tersimpan beberapa catatan kejadian selama lima puluh tahun terakhir. Artinya, saat deretan angka itu ditulis, sang penulis tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Meski semula tak percaya, namun John akhirnya mau tak mau merasa khawatir bahwa ramalan yang tertulis dalam deretan angka itu memang akan benar-benar terjadi. Dan yang paling menakutkan adalah ramalan yang menyebutkan bahwa tak lama lagi ras manusia akan punah.

Kini John punya dua pilihan: membiarkan itu semua terjadi secara wajar atau berusaha untuk menentang takdir dan menyelamatkan seluruh umat manusia dari kepunahan seperti yang digambarkan dalam ramalan dari masa lalu itu. Masalahnya, adakah orang yang percaya pada kata-kata John atau John harus menjalankan misi mulia ini seorang diri.

Ide akhir dunia memang tergolong ide klasik. Bila Anda sempat melihat ARMAGEDDONyang dibintangi Bruce Willis di tahun 1998 lalu, kurang lebih ide itu juga yang coba diangkat lewat film ini. Bedanya mungkin adalah adanya pembauran antara pendekatan ilmu pengetahuan dan pendekatan agama yang disatukan dalam film berdurasi 121 menit ini. Mungkin Alex Proyas, sang sutradara, mencoba merangkul kaum agamis untuk bisa menikmati film ini dari sisi pandang mereka juga.

Sebenarnya ide Alex ini tak salah. Sayangnya dalam penuangannya jadi terasa sedikit mengganjal. Alex mencoba play safe dengan tidak berusaha menyebut agama secara terang-terangan tapi tetap saja penonton akan terbawa ke konotasi yang satu ini karena Alex memasukkan beberapa clue yang mengarah ke sana.

Soal special effect, sebenarnya tak ada yang baru tapi Alex menggunakannya dengan cara yang cukup efektif sehingga tak berkesan basi sementara dari soal akting, agaknya tak terlalu ada masalah yang cukup parah. Satu yang patut disayangkan justru adalahNicolas Cage yang belakangan jadi sering terjebak bermain dalam film-film yang malah merusak image yang ia bangun sejak ia bermain dalam VAMPIRE'S KISS.

The day after Tumorrow

The Day After Tomorrow

Poster The Day After Tomorrow

The Day After Tomorrow adalah film fiksi ilmiah tahun 2004 yang menggambarkan akibat-akibat dari pemanasan global. Film ini ada pada urutan ke-45 di dunia dalam total penghasilannya, yaitu US $542,771,772.

[sunting]Alur

Jack Hall (Denis Quaid)adalah seorang Paleoclimatologist yang sedang melakukan penelitian di Benua Antartika bersama temannya Frank (Jay O. Sanders) dan Jason (Dash Mihok).Sedang melakukan pengeboran untuk mengambil sampel inti es di Larsen Ice Shelf.Saat sedang pengeboran terjadi retakan besar seperti membelah benua itu.Jack menyajikan temuannya pada Konferensi Pemanasan Global Perserikatan Bangsa-Bangsa,diNew Delhi India,di sana hadir banyak diplomat,termasuk Wakil Presiden Amerika Serikat, (Kenneth Welsh) yang tidak yakin pada teori Jack.

Keprihatinan Jack juga dirasakan Profesor Terry Rapson (Ian Holm) dari Pusat Penelitian IklimHedland,Skotlandia.Disana Rapson menemukan dua pelampung di Atlantik Utara secara bersamaan menunjukkan penurunan suhu air secara besar,Rapson menyimpulkan bahwa mencairnya es di kutub telah mengganggu arus Atlantik Utara.Dia menelpon Jack dan memberitahu apa yang terjadi.Jack percaya bahwa peristiwa yang pernah ia ramalkan akan terjadi,tapi tidak dalam waktu yang sangat dekat.Jack dan kedua temannya membangun model prakiraan cuaca bersama Janet Tokada (Tamlyn Tomita) dari NASA.

Di Seluruh Dunia,telah terjadi cuaca ekstrem secara massal.Di Chiyoda,Jepang telah terjadi hujan batu es sebesar bola baseball dan kota Los Angeles telah dihancurkan serangkaian angin topan.Presiden Amerika Serikat(Perry King) mengumumkan kepada FAA untuk menghentikan lalu lintas udara di Amerika Serikat disebabkan oleh cuaca buruk yang sangat parah.Sementara itu,tiga Helikopter RAF yang masuk ke mata badai superstorm yang menyebabkan bahan bakar serta awaknya membeku dan mereka jatuh seketika.Ini disebabkan oleh turunnya suhu di bawah -150 °F(-101,1 °C) dan ini merupakan awal dari Pembekuan Global.

Anak Jack, Sam Hall (Jake Gyllenhaal) berada di New York City untuk kompetisi akademik dengan teman-temannya Brian dan Laura (Arjay Smith dan Emmy Rossum). Selama kompetisi, cuaca menjadi semakin buruk dengan angin kencang dan hujan deras.Sam menelepon ayahnya bahwa ia akan pulang dengan kereta bawah tanah.Tapi Sam baru tahu bahwa Grand Central Station telah di tutup.Saat akan mengungsi di Perpustakaan Umum New York,suatu gelombang air pasang setinggi setengah Patung Liberty menerjang Manhattan.Sam dan temannya pun selamat setelah berhasil masuk ke Perpustakaan itu.

Sam menelpon ayahnya bahwa ia baik-baik saja dan ayahnya memperingatkan untuk tidak keluar dari gedung itu karna badai itu akan semakin parah.Sementara itu para korban selamat harus mengungsi ke Selatan.Sam mencoba memperingati mereka tapi mereka tidak percaya dan hanya beberapa orang yang ingin mempercayainya.Di perbatasan Meksiko banyak korban yang selamat masuk secara paksa dan ilegal.Jack yang pergi ke Manhattan untuk menyelamatkan Sam ditemani oleh Frank dan Jason.Tapi di perjalanan Frank terjatuh di sebuah atap kaca Pusat Perbelanjaan.Jack dan Jason mencoba menyelamatkan tapi Frank mengorbankan dirinya dengan memotong tali.

Sam dan kelompok kecilnya mencoba menghangatkan diri dengan membakar semua buku yang ada disitu dan mengambil makanan dari mesin penjual otomatis.Laura menderita keracunan darah sehingga Sam,Brian dan JD mencari penisilin di sebuah kapal kargo Rusia yang terbawa oleh air pasang.Saat berhasil mendapat makanan dan obat,mata badai superstorm melewati New York dan seluruh kota membeku dengan cepat.Merekapun tiba diperpustakaan dengan cepat dan berusaha menghangatkan diri dengan membakar buku.

Jack dan Jason yang bersembunyi kembali melanjutkan perjalanan dan sampai di perpustakaan dan menemukannya terkubur oleh salju,tetapi menemukan kelompok Sam hidup dan selamatkan. Presiden memerintah pencarian dan tim penyelamat untuk mencari korban lain, yang telah diberikan tahu oleh Sam. Film berakhir dengan dua astronot memandang pemandangan bumi dari Stasiun Luar Angkasa Internasional, menunjukkan mayoritas belahan bumi utara tertutup es.

August Rush

august_rush03Setelah sekian lama gak nonton film radha bagus dan bergizi, baru semalam nonton lagi: August Rush, film darama musikal yang dibintangi oleh si cantik Keri Russell. Berkisah tentang Evan Taylor (Freddie Highmore), bocah 12 tahun yang hidup di sebuah panti asuhan. Sejak lahir ia tidak tahu siapa kedua orang tuanya. namun ia selalu yakin bahwa kedua orang tuanya suatu saat akan menjemputnya. Dalam bahasa Evan “mungkin saja mereka tengah tersesat”.

Jika Jean-Baptiste Grenouille, tokoh utama dalam novel dan film Perfume karangan Patrick Suskind memiliki indra yang sangat tajam dalam membaui aroma apapun, maka Evan Taylor memiliki indra yang luar biasa dalam mendengarkan nada-nada, irama dan suara-suara yang didengarnya dan mengkomposisikannya menjadi sebua musik yang memikat. Yup. Mungkin hal ini karena bakat keturunan yang diwarisi dari kedua orang tuanya.

Kedua orang tua Evan adalah Lyla Novacek (Keri Russel), seorang pemain celo muda nan cantik jelita dan Louis (Jonathan Rhys Meyers), gitaris dan penyanyi band muda berbakat dan kharismatik keturunan Irlandia. Keduanya bertemu pada suatu malam saat Lyla telah selesai menggelar konser dan berjalan-jalan di sekitar Washington Square, New York. Satu malam itulah yang mengubah segalanya. Keduanya pun ngobrol dan saling berbagi kecintaan tentang musik dan berakhir dengan “kimpoi” di atap sebuah gedung malam itu juga.

Lyla hamil akibat buah cinta semalamnya dengan Louis. Saat usia kandungan Lyla mendekati kelahiran, Lyla mengalami kecelakaan. Ayah Lyla memanfaatkan momen ini untuk memisahkan Lyla dengan ‘anak haram’ nya, karena ia tak ingin karier bermusik anaknya hancur karenanya. Ia mengatakan kepada Lyla bahwa bayinya lahir dalam keadaan meninggal, padahal sebenarnya bayi tersebut diserahkan ke panti asuhan. Bayi itu tumbuh besar menjadi Evan.

Didorong oleh keinginannya untuk mencari kedua orang tuanya, Evan lari dari panti asuhan. Dengan mengikuti irama dan suara-suara yan g didengarnya, ia melangkahkan kakinya ke New York. Bisa ditebak, selanjutnya adalah perjalanan Evan yang penuh dengan kebetulan. Mulanya ia bertemu dengan Arthur, seorang pengamen jalanan. Dari Arthur, Evan bertemu dengan Wizard (Robin William) seorang musisi jalanan yang menampung para pengamen jalanan. Wizard yang mengetahui bakat bermusik yang luar biasa dari Evan bertekad menjadikan Evan seorang musisi, dan mengganti nama Evan Taylor dengan nama August Rush.

Menjelang sekaratnya, ayah Lyla mengungkapkan rahasia tentang anaknya. Lyla terkejut dan mulai mencari anak yang tak pernah diketahui keberadaannya tersebut. Sementara itu, Louis, selalu teringat akan Lyla dan berusaha menemuinya. Selanjutnya mudah ditebak. Tiga alur sungai yang menuju ke satu muara yang sama.

Tidak bisa dipungkiri, film ini masih berkisah dalam kerangka dongeng: anak terbuang yang mencari kedua orang tuanya dengan bantuan bakat yang dimilikinya. Seperti dongeng Cinde Laras dengan Ayam Hutannya. Namun nuansa musikal sebagai pengganti minimnya dialog panjang yang membosankan, menjadi nilai tambah. kita akan disuguhi komposisi suara-suara yang sebenarnya seringkali kita dengar namun tidak kita sadari, seperti dentuman suara bola basket, suara klakson mobil, gemerincing koin, kepakan sayap burung, desir angin dlsb.

You know what music is? God’s little reminder that there’s something else besides us in this universe; harmonic connection between all living beings, every where, even the stars.-Wizard

The music is all around you, all you have to do is listen. -August Rush